Wartajombang.com – Dugaan aksi kekerasan dan penganiayaan mewarnai dinamika pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur. Tokoh NU, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), membeberkan bahwa seorang pengurus Pengcab NU dari daerah menjadi korban dugaan pemukulan oleh oknum Pengurus Wilayah (PWNU).
Insiden kekerasan tersebut ditengarai dipicu lantaran korban tidak mengikuti arahan terkait Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang ditetapkan oleh pihak PWNU. Akibat pemukulan di bagian wajah, korban telah menjalani pemeriksaan medis serta visum, dan kejadian tersebut secara resmi telah dilaporkan ke Polres Jombang.
Selain aksi pemukulan fisik, Gus Salam juga mengecam tindakan intimidasi berupa karantina paksa terhadap sejumlah peserta muktamar dan jajaran Rais Syuriah.
Selain penganiayaan, Gus Salam juga menyoroti tindakan pembatasan gerak terhadap peserta lain. Ia menyebut sejumlah peserta muktamar mengalami “karantina” dan tidak bisa keluar. Beberapa bahkan tidak bisa berziarah atau menemui saudara di wilayah Jombang dan Jawa Timur.
Gus Salam mengecam keras tindakan tersebut. Ia menyebut peristiwa itu sebagai tindakan tidak beradab.
“Ini sangat memprihatinkan. Apalagi korbannya para kiai dan peserta muktamar,” ujar Gus Salam.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Polres Jombang belum memberikan keterangan resmi terkait laporan yang masuk.
Pihak penyelenggara muktamar juga belum memberikan klarifikasi atas dugaan intimidasi dan pembatasan yang disampaikan Gus Salam.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik. Banyak pihak menunggu proses hukum berjalan untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik dugaan kekerasan dalam forum tertinggi NU (dcky)











