Wartajombang.com— Kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021–2026 resmi berakhir setelah Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan diterima oleh peserta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Pengesahan tersebut berlangsung dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU yang digelar di Gedung Serba Guna KH Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/8/2026).
Dengan diterimanya LPJ tersebut, kepengurusan PBNU periode 2021–2026 dinyatakan demisioner. Momentum itu sekaligus menjadi penanda berakhirnya masa khidmat KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU.
Dalam pidato terakhirnya sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Yahya menyampaikan rasa syukur karena dapat menuntaskan amanah kepengurusan hingga akhir masa khidmat.
Gus Yahya juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan kepercayaan serta mendukung perjalanan kepengurusan PBNU selama periode 2021–2026.
“Alhamdulillah kami bisa mengakhiri masa khidmat pengabdian ini dengan sebuah kelegaan. Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan. Insya Allah masa khidmat yang akan datang menjadi lebih baik,” ujar Gus Yahya dalam pidatonya.
Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan peserta Muktamar ke-35 NU yang menjadi forum tertinggi organisasi.
Suasana haru dan penuh penghormatan turut mewarnai berakhirnya masa kepengurusan PBNU periode sebelumnya.
Berakhirnya masa khidmat tersebut sekaligus membuka tahapan baru dalam perjalanan organisasi. Muktamar ke-35 NU selanjutnya akan menentukan kepemimpinan PBNU untuk periode 2026–2031.
Hingga Minggu malam, rangkaian Muktamar ke-35 NU masih berlangsung. Salah satu tahapan penting yang telah dilalui adalah pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Sembilan anggota AHWA yang telah terpilih selanjutnya memiliki tugas penting untuk bermusyawarah menentukan sosok yang akan dipercaya menjadi Rais Aam PBNU untuk masa khidmat lima tahun mendatang.
Setelah Rais Aam ditetapkan, agenda Muktamar akan berlanjut pada proses pemilihan Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.
Pergantian kepemimpinan tersebut menjadi salah satu agenda paling dinantikan dalam Muktamar ke-35 NU. Dinamika forum terus berkembang seiring berlangsungnya setiap tahapan persidangan.
Dengan resmi demisionernya PBNU periode 2021–2026, estafet kepemimpinan Nahdlatul Ulama kini memasuki fase baru. Seluruh perhatian peserta muktamar tertuju pada proses penentuan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU yang akan membawa organisasi memasuki masa khidmat berikutnya. (dcky)
Wartajombang.com — Suasana Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sempat memanas pada… Read More
WartaJombang.com— Pengurus Pusat (PP) Pagar Nusa menegaskan sikap netral dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok… Read More
Wartajombang.com — KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf mengajak seluruh pendukung dan simpatisannya untuk tetap tenang serta menjaga keamanan… Read More
Wartajombang.com— KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya menduduki posisi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah 2026–2031. Penetapan… Read More
Wartajombang.com — Proses pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) semakin memasuki tahapan… Read More
Wartajombang.com— Proses penentuan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 memasuki tahapan penting. Sembilan kiai khos yang terpilih… Read More